Alasan Psikis Di balik Kecenderungan Mengenakan Masker

Alasan Psikis Di balik Kecenderungan Mengenakan Masker

Semakin kemari semakin banyak yang merasa was-was. Apalagi penyebabnya kalau bukan virus Corona alias COVID-19 yang sekarang sedang keluar dari kampung dan melakukan “world tour”. Jalan-jalan melihat dunia bersama inangnya, mungkin terinspirasi oleh banyak iklan traveling.

Kalau turis langsung disambut karena bawa devisa, kalau virus sudah bikin semaput malah hilangin devisa. Banyak negara melakukan lockdown. Orang-orang di isolasi di rumah.

Saat diumumkannya pasien number one, yang umumnya terjadi adalah panic buying di pusat-pusat perbelanjaan. Berlanjut pada  hilangnya beberapa barang kebutuhan penting.

Sekarang yang kita semua masih rasakan adalah sulitnya ketersediaan masker dan hand sanitizer.

Beberapa waktu lalu saya pergi ke sebuah supermarket besar. Menurut karyawannya semalam stock hand sanitizer datang…. langsung ludes! Cuma numpang mampir sesaat di rak pajangan.

Apotik tempat langganan saya rutin membeli masker di musim flu sudah beberapa bulan ini tidak menerima stok lagi dari pusat. Beberapa apotik bahkan mengumumkan kekosongan produk tersebut secara tertulis di depan pintu mereka, untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang selalu sama.

OK, kalau hand sanitizer bisa dimaklumi. Karena kita susah cuci tangan di jalan kan. Untungnya, memproduksi hand sanitizer tidak sesulit masker.

Ada sebuah kasus. Seseorang di kantor terlihat selalu mengenakan masker. Tidak pernah satu hari pun dia muncul tanpanya. Padahal dia nggak sakit.

Ketika ditanya kenapa, inilah suaranya dibalik masker,

“Rasanya lebih aman saja.”

Jadi penasaran.

“Berarti kamu tiap hari ganti masker, dong?”

Pemakaian masker efektif adalah 8 jam, lalu seharusnya ganti yang baru. Kalkulator di kepala ini pun langsung membayangkan berapa box yang di punya oleh orang ini dan berikut harganya.

“Nggak, saya gantinya 2 hari sekali.”

“………..!! “

Ternyata mengenakan masker, bagi beberapa orang, sebagian besar alasan lebih ke arah psikis ketimbang fisik. Demikian menurut Amy Morin, seorang psikoterapis.

Banyak faktor psikologis yang mendorong kita memakai masker- selain karena masalah kesehatan, banyak debu, fashion, dan sebagainya

a. Mengurangi Kecemasan

Manusia butuh untuk memiliki kontrol atas sebuah situasi yang terjadi. Adanya virus menyebar, kita merasa seperti berada dalam sebuah permainan dadu. Kita nggak pernah tahu siapa yang akan kena selanjutnya.  Dengan mengenakan masker ada rasa aman karena merasa kita sudah sedikit saja mengendalikan kondisi, yaitu mengenakan proteksi, sehingga mengurangi rasa cemas atau anxiety.

Walaupun itu semu karena  masker belum tentu efektif mencegah penularan.

b. Pengaruh Kultur

Pada beberapa kultur terbiasa mengenakan masker seperti di Jepang dan Korea Selatan. Semakin kuat sebuah kultur memiliki sikap menahan diri, budaya rasa malu tinggi, menghargai privasi, maka semakin besar pula kecenderungan masyarakatnya mengenakan masker. Benda yang melindungi dari kemungkinan dikenal saat terjadi hal memalukan, menutupi rasa ketidaknyamanan, merasa tidak PD dengan wajah, dsb.

c. Insting Mengikuti Kelompok

Tetangga beli mobil keren, langsung panas pengin punya juga. Melihat orang rebutan beli gula langsung tanpa sadar ikut beli. Begitu juga dengan pembelian masker.

Habisnya masker di pasaran sebetulnya memprihatinkan, karena virus ini tidak bisa dicegah dengan menggunakan masker biasa. Lebih efektif dipakai oleh mereka yang sakit atau petugas kesehatan. Kenapa? Karena struktur dari masker mencegah droplet terlempar keluar dari mulut si sakit sehingga tidak kemana-mana

Pertanyaannya, kalau yang sakit dan petugas kesehatan sudah kekurangan masker, bagaimana memproteksi diri mereka sendiri untuk tidak menyebarkan penyakit serta membantu orang tertular?

Padahal efek samping kita mengenakan masker juga ada, lho :

1. Kita tanpa sadar jadi lebih sering menyentuh muka

Mengenakan sesuatu di wajah, wajar timbul rasa nggak nyaman atau gatal. Akhirnya tanpa sadar, tangan kita jadi sering menyentuh wajah, entah itu untuk membetulkan posisi atau karena yang lain.  Apalagi anak kecil, coba saja kenakan pada mereka, yang ada mereka suka garuk-garuk muka terus, tanpa berpikir untuk cuci tangan dulu. Spontan saja!

2. Rasa aman semu membuat seseorang cenderung berbuat nekad

Saat seseorang merasa aman, dia merasa lebih berani dan bebas dalam melakukan sesuatu. Ibaratnya seperti sudah punya “asuransi”.  Jadi santai saja saat berkumpul bersama orang banyak, naik kendaraan umum, dsb. Padahal semua itu bila nggak perlu banget justru lebih baik dihindari kan ya?

3.Bila masker nggak ada, kita jadi jauh lebih cemas

Ya karena sudah terbiasa banget pakai masker, sekalinya masker habis atau nggak ada, kita jadi terserang cemas. Merasa nggak aman, merasa tidak bisa mengendalikan situasi, dsb. Padahal masker harganya sekarang mahal, ya? Buntut-buntutnya pengeluaran, deh.

===
Sebaiknya siapkan masker secukupnya saja dan kenakan ketika kita yang sakit. Atau tawarkan kepada mereka yang sedang sakit tapi tidak punya.

Bagaimana pendapatmu?

====

Update : Tulisan ini saya buat ketika awal-awal kasus Corona merebak dan banyak terjadi penimbunan masker. Dengan semakin menyebarnya pandemi dan atas saran dari WHO, dianjurkan semua orang untuk memakai masker kain bila keluar rumah selama masa PSBB.  Selain untuk preventif masker kain juga menggerakkan pengadaan barang subtitusi lain bagi masyarakat sehingga penimbunan masker medis, yang seharusnya digunakan oleh nakes di lapangan. bisa dicegah.

Gambar dari dokumentasi pribadi